Rabu, 10 Februari 2016

Cerpen Ibu : "Mother Is An Angel All My Life"



Mother Is An Angel All My Life

Pagi itu, saat embun-embun tampak masih bergelayut, dan seakan enggan untuk tergelincir pada tangkai-tangkai pohon yang memintanya untuk terjatuh. Ditambah suara kicauan burung di atas ranting pohon, menyambut mentari pagi yang hendak terbit di ufuk timur.

Suara-suara gesekan bambu yang seolah memainkan lagu berteman dengan semilir angin yang mencoba untuk berhembus pelan.

Seberkas cahaya matahari telah memasuki kamarku, disana aku sedang berkaca diri, melihat pantulan diriku pagi ini. Aku mengenakan baju kerjaku, terlihat sederhana namun elegan. Setelah wajah terpoles make up yang tidak terlalu tebal, mata ini aku tambahkan eyeliner agar terlihat lebih segar. Dan tak lupa, bibir ini aku kecupkan lips gloss yang tidak terlalu pekat. Sempurna, natural.

“Shalu,” sahut ibuku sembari masuk ke dalam kamar. “Tadi ibu habis ke pasar, dan ibu suka sama baju ini. Jadi, ibu membelikannya untukmu.” Sambung ibu seraya menunjukkan baju yang baru dibelinya.

Aku melihatinya, sejenak aku berpikir. Baju itu sungguh sederhana, terlebih ibu membelinya di pasar. “Kamu suka kan?” ketus ibu dengan wajah berseri-serinya.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan baju yang dibelikan ibu, karena tidak sesuai dengan model kesukaanku. Tapi aku tak mungkin menolaknya, terlebih membuat wajah ibu yang berseri-seri ini menjadi cemberut. Oh tidak, aku tidak menyukai itu.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada ibu. “Alhamdulilah. Kalau begitu kamu coba ya?” ujar ibuku.

“Eeee kapan-kapan aja ya, Bu? Lagian Shalu sudah pakai baju, dan Shalu harus segera berangkat sebelum terlambat.” Kataku yang sebenarnya sedang menolak ibu dengan pelan.

Ibu mengangguk dan kembali melipat baju itu. Ditaruhnya baju itu di dalam lemariku. “Ya sudah tidak apa-apa.”

Aku mengangguk. “Bu, Shalu berangkat dulu ya? Assalamu’alaikum.” Kataku dengan mencium punggung tangan ibu.

“Wa’alaikum salam.” Balasnya dengan penuh senyuman.

-oOo-

Hari berganti minggu, dan minggu melanjutkan ke peraduan bulan. Malam telah tertidur, bersama sang rembulan dan para bintang. Meminta sang fajar untuk kembali menyingsing. Menyambut hari yang terus berputar.

“Shalu, kenapa baju yang ibu belikan tidak kamu pakai, Nak?” sahut ibu yang masuk ke dalam kamarku.

“Iya, Bu. Nanti Shalu juga akan memakainya.” Kataku yang tak sedikitpun untuk melihat ke arah ibu.

“Tapi ibu ingin lihat kamu pakai baju itu.” Ujar ibuku.

Aku mengangguk. “Iya, Ibu. Sekarang Shalu harus berangkat dulu.” Kataku pelan. Tapi ibuku terus memaksa agar aku memakai baju yang dibelikannya, hingga akhirnya “Ibu!!” teriakku. Seketika, ibuku terdiam, memandangi baju yang kulempar.

Ibu hanya terdiam, dan aku bisa melihat, melihat air mata yang akan mengucur dari matanya. Tapi entahlah, aku malah berlalu pergi meninggalkan ibu begitu saja.

-oOo-

Aku hanya bisa terdiam di depan meja kerjaku. Teringat akan kejadian tadi yang barusan aku lakukan pada ibu. Sungguh, hati ini sangat menyesal ibu. Membiarkan air matanya yang begitu berharga terjatuh, ini semua salahku, ibu. Maafkan aku.

Namun, pikiran itu aku coba hilangkan sejenak. Tidak mungkin bagiku untuk terus-terusan memikirkannya, toh banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Saat tangan ini akan ku angkat bersama jari jemari yang siap untuk menari di atas komputer, seorang client mendatangiku. Katanya ada seorang wanita yang ingin menemuiku. Aku segera untuk menemuinya.

Terlihat seorang wanita yang tak asing lagi di mataku, dengan pakaian sederhana yang membalut tubuhnya serta tentengan yang dibawanya. Ya, dia ibuku. Ibu datang membawakan bekal untukku.

“Ibu?” sahutku seraya duduk di sampingnya. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, ibu sangat hangat menunggu kedatanganku. “Shalu, ibu bawakan bekal untukmu.” Katanya sembari memberikan bekal untukku.

“Ta ta tapi Shalu bisa beli sendiri, Bu. Lagian apa ibu sudah makan?” ujarku. Ibu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku tahu, ini adalah cara ibu untuk menyembunyikan apa yang sedang ibu rasakan. Ibu pasti lelah, ibu pasti lapar.

“Eeee begini, Shal,” ucap ibuku. Aku mengerutkan dahi, menunggu kelanjutan perkataan ibu. “Ibu datang kesini kepengin jalan-jalan sama kamu. Apa kamu sedang tidak sibuk?” lanjutnya yang seakan mengerti dengan kesibukanku.

Aku terdiam, memandangi wanita yang ada di hadapanku. Sebuah permintaan yang sederhana bagiku, tapi cukup bagi ibu untuk tersenyum, hanya dengan bersamaku. “Kalau Shalu sibuk, ngga papa. Ibu tahu.” Tambahnya lagi.

“Ibu.” Ucapku seraya menggenggam tangan ibu. Ibu memandangiku, lalu aku menganggukan kepala sebagai tanda ya. Perlahan, senyum itu, senyum yang sangat aku rindukan mulai terpancar dari wajah senjanya. Dan semoga dengan menuruti permintaan ibu, bisa menjadi tanda maaf atas kesalahanku tadi pagi.

-oOo-

Melihat ibu tersenyum sudah cukup membuatku bahagia. Karena aku tahu, bahagia itu sederhana, tidak perlu sesuatu yang mewah untuk bisa merasa bahagia. Aku mengajak ibu untuk berjalan-jalan disebuah mall, karena ibu sudah lama tidak keluar rumah. Apalagi ke mall.

Ibu terlihat begitu bahagia, tak henti-hentinya, ibu melontarkan senyum bahagia padaku. Sungguh, aku merasa sangat bahagia dengan ini. Serasa akulah yang paling beruntung di dunia ini. Sesekali aku perhatikan, ibu begitu takjub dengan berbagai macam barang yang terpajang di mall, bahkan hampir barang itu jatuh karena ibu kurang berhati-hati.

Tapi syukurlah, aku tidak terlambat untuk mencegahnya. Karena jika terjatuh dan pecah, bukan tidak mungkin aku untuk menggantinya. Ditambah barang itu sangat mahal. Namun, rasa cemasku masih saja bergelayut di dada, saat ibu lagi-lagi takjub dengan kerajinan keramik yang ada di mall.

“Ibu, jangan sampai barang ini jatuh ya. Karena kalau pecah, kita harus menggantinya.” Kataku lembut pada ibu. Ibu mengerti, ibu mengangguk.

Dan baru saja ibu mengerti, Pyaangggg!!!

Mataku membulat, aku tersentak, tubuhku serasa gemetar, kakiku seakan tertancap di bumi, sulit sekali untuk aku angkat. Pandangan para pengunjung seketika langsung berpaling, memandangiku dan ibu.

“Ibu!” kataku tegas. “Kenapa ibu malah menjatuhkan keramik itu? Bukankah Shalu sudah memperingati ibu, agar ibu lebih berhati-hati?” timpalku.

Ibu menundukkan kepala, “ma ma maafkan, Ibu. Ibu ngga sengaja.” Ucap ibu yang merasa bersalah.

“Ibu sungguh memalukan!” tegasku. Sungguh, kali ini aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku. Aku benar-benar tidak peduli dengan perasaan ibu, walau aku tahu, ibu tidak sengaja menjatuhkannya.

Perlahan, bulir bening menepi di mata ibu. “Maafkan ibu telah memalukanmu. Ibu tidak akan mengajakmu untuk jalan-jalan lagi.” Ketus ibu yang terdengar menyimpan kekecewaan di balik kesabarannya. Kemudian, ibu segera pergi dari hadapanku.

Aku tidak mencegahnya. Aku tertegun atas perkataanku sendiri. Mengatakan jika ibu telah memalukan diriku. Oh sungguh, air mata yang sempat aku tahan pun mulai bercucuran. Aku hanya bisa memandangi punggung ibu yang perlahan mulai menghilang dariku.

-oOo-
22 Desember,

Entah kenapa, hari ini aku merasa sesuatu yang sulit sekali untuk dijabarkan. Seakan ada perasaan yang memintaku, entah untuk apa. Aku mencoba untuk kembali fokus dengan pekerjaanku, dan saat aku akan membuka dari dalam tasku, secarik kertas terjatuh. Aku segera mengambilnya.

Ini surat dari ibu. Ibu meminta maaf padaku, atas sikapnya yang telah membuatku malu. Dan entah kenapa, kristal bening mulai mengalir dari mataku. Aku menyekanya, saat aku akan mearuh kembali kertas itu di dalam tas, mataku melirik ke komputer yang ada di hadapanku. Ini tanggal 22 Desember, hari ibu.

Seakan aku tersentak, pikirku melayang pada ibu. Dan entah kenapa, aku segera pergi dari tempat kerjaku, dan segera pulang ke rumah, untuk menemui ibu, menemui malaikat dalam hidupku.

“Ibuuu!!!” teraikku sembari membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Tapi tidak ada siapa-siapa di rumah. Sepi. Aku mencoba untuk masuk ke kamar, barangkali ibu ada di sana. Dan, nihil. Ibu  tidak ada di kamar. Ketika aku akan kembali mencari ibu, tanganku seakan meminta untukku membuka lemari ini.

Aku mencoba untuk membuka lemari ini, kemudian aku ambil baju yang tersimpan rapi. Ya, ini adalah baju yang dibelikan ibu di pasar. Aku melihatinya, terbesit ingatanku dulu, saat pertama kali aku masuk sekolah. Aku selalu merasa bangga menceritakan baju seragam yang aku kenakan, baju itu terlampau berharga, baju itu adalah buatan ibu. Dengan kasih sayangnya, ibu membuatkan baju untukku. Hingga tak ku sadari, air mata telah hadir membasahi pipiku.

Aku kembali mencari ibu. “Ibuuu!!!” teriakku. Kemudian sebuah jawaban terdengar dari luar rumah, ya itu ibu. Ibu baru selesai mencuci. Aku segera memeluknya, tak peduli dengan bau keringat lelah darinya, aku hanya ingin merasakan pelukan itu. Pelukan hangat dari seorang ibu.

Ibu membelai kepalaku lembut, penuh kasih sayang. Oh ibu, betapa air mata ini selalu menetes dari mataku, ketika aku mengingat semua keburukanku padamu. Tapi kasih sayangmu tak pernah berkurang padaku, dan aku tahu. Disetiap nafasmu pasti terselip do’a untukku.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Isra 17:24)

Oh ibu, sungguh Allah menciptakanmu sangat mulia. Terbuat dari apakah hatimu itu, Ibu? Kau adalah sang pemilik rahim cinta yang takkan berkurang substansinya.

Mother is an angel in the from of man, his love, love, all the time. Thanks, Mom. I always loved you all my life.




Cerpen Nasionalisme : Sampai Titik Darah Penghabisan!


Sumpah Pemuda

Satu. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia
Dua. Kami putra dan putri Indonesia,

Duuaarrrrr!!

Seketika semua langsung berlari tunggang langgang, setelah pasukan Belanda kembali menjatuhkan bomnya. Akibatnya, banyak dari siswa yang sedang mengikuti pelajaran tewas akibat terkena reruntuhan bangunan. Sedangkan mereka yang selamat, masih terus berlari dan berlari sampai masuk ke dalam hutan.

"Sampai kapan kita akan berlari terus?" kata Amir disela peluhnya yang mengucur.

"Kita harus berlari sejauh mungkin, agar tidak tertangkap oleh pasukan Belanda," ujar Soleh.

"Tidak!" seru Lukman lantang dengan tatapan memerah. Seketika langkah mereka berhenti.

"Apa maksudmu tidak? Apa kau ingin tertangkap oleh Belanda dan akhirnya kita mati?" bentak Soleh dengan menatap Lukman dalam.

"Lalu, apakah kau takut dengan Belanda? Kita bukannya harus lari seperti ini! Tapi kita harus maju dan melawan mereka! Paham!" suara Lukman terdengar tegas. Terlihat, mereka seolah siap untuk berduel. Tatapan mereka sangar, bagai dua ekor singa yang siap bertarung.

"Hentikan!" seru Maria melerai pertengkaran yang akan terjadi. Lukman dan Soleh saling membuang muka. Benci.

"Kita tidak seharusnya berkelahi seperti ini. Lebih baik kita pikirkan, bagaimana kita bisa mengusir mereka dari negara kita tercinta ini!" kata Maria penuh semangat.

"Benar apa kata Maria," Amir menambahkan. "Lebih baik kita pikirkan bagaimana cara kita untuk mengusir mereka. Karena tidak mungkin, kita akan terus menerus dijajah mereka,"

"Ya!" Lukman mengangguk. Menatap kedepan dengan mantap. Mengepal tangannya penuh harapan. "Aku sangat benci dengan mereka! Aku menginginkan para manusia bedebah itu mati! Ciihhh!" sambung Lukman dengan rasa benci yang teramat dalam pada pasukan Belanda.

Dengan gejolak semangat yang membara. Sebagai darah garuda, mereka tak rela jika ibu pertiwi terus diperbudakan oleh pasukan Belanda. Telah banyak korban berjatuhan akibat tindak kekerasaan dan paksaan yang dilakukan oleh pasukan Belanda. Bahkan kejadian tadi, saat mereka sedang menuntut ilmu di sekolah. Tiba-tiba saja mereka menghantamkan bom ke bangunan sekolah. Seketika itu pula gejolak rasa benci mulai mendarah daging.

Amir, Lukman, Soleh, dan Maria terus berjalan menyusuri pepohonan yang lebat. Sesekali mereka mendengar dentuman senjata yang sangat memekakan telinga. Dan tak jarang, rasa was-was menyelimuti mereka, jikalau ada pasukan Belanda yang tiba-tiba melintas di hutan. Mereka terus berjalan, sampai akhirnya mereka sampai disuatu tempat. Terlihat, banyak orang yang seperti prajurit sedang latihan.

"Berhenti!" salah seorang penjaga memberhentikan keempat sekawan ini. "Siapa kalian?" timpalnya.

"Apa jangan-jangan kalian adalah mata-mata dari Belanda?" ujar orang itu lagi dengan tatapan dalam.

"Kami bukan mata-mata Belanda. Kami orang peribumi. Kami ingin menjadi pasukan perang," ketus Lukman tegas.

Orang itu tak percaya. Diperhatikanlah mereka sekali lagi. "Dan kau perempuan. Kau juga ingin menjadi pasukan perang?" kini orang itu mulai bertanya pada Maria.

"Iya. Aku ingin mengusir mereka. Aku tidak ingin rakyat Indonesia terus menderita oleh mereka!" tegas Maria dengan mantap.

"Semangat yang bagus. Tapi anak perempuan tidak bisa menjadi pasukan perang,"

"Kenapa? Bukankah laki-laki dan perempuan sama saja?"

"Tidak! Perempuan hanya bertugas sebagai penangan medis atau juru masak saja,"

Saat Maria akan menjawabnya, Lukman mencegah. Setelah itu, mereka semua mulai menjadi anggota pasukan perang.
Jam berganti hari. Dan hari melanjutkan ke peraduan bulan. Mereka sedang menyiapkan siasat perang bersama anggota senior lainnya. Dentuman senjata sesekali terdengar dari arah sana. Ditambah hujatan bom berkali-kali. Darah dan air mata telah membanjir. Meresap ke tanah ibu pertiwi.

Telah banyak diantara mereka yang mati tertembak. Dan juga pasukan Belanda tentunya. Namun empat sekawan itu masih sanggup untuk meneruskan perang. Berkat adanya senjata yang mereka rampas semakin yakin bahwa mereka bisa membabat pasukan Belanda.

Dorrrr! Duaarrrr! Masih terdengar jelas bagaimana ganasnya serangan dari pasukan Belanda itu.

Maria yang bertugas sebagai juru masak merasa geram atas perlakukan pasukan Belanda. Sembunyi-sembunyi ia mencoba mencari celah untuk segera pergi dari sini dan ikut perang melawan pasukan Belanda itu. Tak peduli, biarpun ia wanita tapi juga berhak ikut serta dalam membela negara.

Sedangkan mereka yang sedang berperang, nampak bersembunyi disebuah batu besar. Ini mereka lakukan bukan karena takut, melainkan mereka kalah jumlah dengan pasukan Belanda yang menghujat mereka dengan serangan bertubi-tubi.

"Kenapa kita malah bersembunyi?" ujar Soleh dengan nafas yang tersisa.

"Kita tidak sanggup melawan mereka. Jumlah kita tidak sebanding dengan mereka," tutur Amir.

"Ah payah kau! Biar aku saja yang melawan mereka! Sampai titik darah penghabisan!" seru Soleh dengan tatapan sangarnya.

Saat Soleh akan keluar dari persembunyian, Lukman mencegahnya. "Tidak! Kau jangan terlalu gegabah. Yang harus kita lakukan adalah mencari markas besar mereka lalu kita bom,"

"Ah! Minggir!" Soleh tidak peduli dengan Lukman.

Dengan gejolak semangat yang mengalir, Soleh keluar dari persembunyiannya. Doorrrrrr!! Dooorrrr!! Soleh tewas. Tertembak. Darah segar mengalir disekujur tubuhnya. Amir dan Lukman menangis, tak kuasa melihat sahabatnya mati.

"Amir! Lukman!" mereka menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Maria dengan sesekali terjaga tampak berada di dalam mobil.

Amir dan Lukman segera berlari ke arah Maria. "Kenapa kau kemari?" ujar Lukman.

"Aku ingin ikut perang. Aku ingin membalas dendam pada mereka!"

"Tapi kau ..." belum sempat Amir berkata, Doorrrrr!! Pasukan Belanda mengetahui keberadaan mereka. Segera mereka naik ke atas mobil dan melesat pergi.

"Aku tahu markas mereka," kata Maria.

"Benarkah?" Maria mengangguk.

"Bagus. Bawa kami ke markas mereka,"

Setibanya disana. Terlihat hanya beberapa saja yang berjaga. Saat itulah mereka menyusup masuk. Lukman bertugas untuk mengaktifkan bom di dalam markas. Sementara Maria dan Amir berjaga, dan melawan pasukan yang ada. Dooorr! Peluru pasukan itu mengenai tangan Amir, ia sempat ambruk, namun dengan semangat yang membara, ia mencoba untuk bangkit dan melawan mereka. Sampai titik darah penghabisan.

"Dimana Amir?"

"Tidak tahu. Tadi dia tertembak,"

Amir sedang menaiki gedung yang terdapat bendera Belanda berkibar. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Amir merobek warna biru dari bendera itu dan membiarkan warna merah putih terus berkibar di angkasa. Segera Amir berlari menemui Lukman dan Maria, sebelum bom itu meledak.

"Ayo kita pergi!"

Dengan cepat, mereka pergi. Walau mereka masih mendapat serangan dari sisa pasukan Belanda. Tak lama, Duuaarrrr!! Terdengar bom itu telah meledak. Pasukan Belanda akhirnya banyak yang mati, walau kaptennya belum berhasil mereka lumpuhkan. Setidaknya, tiga lawan satu tentu akan menang tiga. Mereka bersorak senang sekaligus haru, air mata mengalir diantara perihnya darah.

Begitu berat perjuangan mereka untuk mempertahankan tanah air Indonesia. Bahkan sampai titik darah penghabisan. Sudah sewajarnya kita bersyukur, karena kita tidak ikut ambil alih dalam ganasnya perang itu. Yang sekarang perlu kita jaga adalah rasa nasionalisme yang kuat. Dan jangan biarkan orang dari negara lain menjajah negara kita kembali. Merdeka!!
























About Me :

Anna Jihan Oktiana, sering disapa akrab dengan panggilan Ajo oleh teman SMP-nya. Lahir di Banyumas, 8 Oktober 1999. Bersekolah di SMKN 1 Purwokerto. Saran dan kritik karyanya follow twitter @aNjioLova_jihaN dan add facebook Anna Jihan Oktiana atau via email annajihanoktiana.ajo9g@gmail.com. Salam pena Ajo_dhuwee^^
Top of Form

Cerpen Motivasi : "I am Scolioser!"



Awal pertama dokter mendiagnosa aku menderita skoliosis, rasanya hati ini hancur. Air mata tak lagi sanggup ku bendung. Serasa bumi ini akan runtuh.

Namun lama kelamaan, aku mulai menerima kondisiku. Toh ini juga bukan mauku. Aku hanya berfikir, mungkin Tuhan sedang mengujiku seberapa sabar diriku untuk menerima       penyakit          ini.

Tapi aku bangga. Walaupun aku skolioser bukan berarti aku tidak bisa apa-apa. Karena satu yang ku tahu. Keberhasilan tidak akan mendatangi orang yang hanya diam.

***

Sudah dua tahun lamanya aku menjadi skolioser. Bukannya aku tidak berusaha untuk sembuh dari skoliosis ini. Tapi memanglah butuh waktu yang lama dan tergantung dari seberapa rutin kita melakukan pemeriksaan.

Deritaku ditambah lagi karena harus memakai alat sejenis penyangga untuk menyangga tulangku. Hal ini dilakukan agar kedaan tulangku tidak bertambah parah. Kalau pakai ini rasanya sesak. Tapi ya mau ngga mau harus mau.

Warna jingga kekuningan yang berpadu apik dengan biru mudanya langit sungguh elok dipandang. Ditambah gumpalan-gumpalan awan yang mengisyaratkan sebuah lukisan alam           sangat  indah.

Tapi semua itu tidak bisa memberiku sebuah keceriaan. Disini. Diruangan ini. Hanya ada kebisuan yang membabi buta. Dan keheningan yang menghanyutkan.

Tak jarang, kebosanan yang pekat melanda. Aku ingin sekali seperti anak-anak yang lain. Yang bebas bergerak dan bisa bersekolah. Tanpa dipandang sebelah mata.

Aku sangat menderita dengan skoliosisku ini. Setiap hari aku harus disinar. Nah efek dari penyinaran itu aku merasa sangat sakit. Terkadang rasa putus asa menghampiriku. Memintaku agar     pergi.

Ceklekk!

Mama masuk dengan membawakan pakaian untuk penyinaran nanti. Ini sudah kesekian kalinya aku menjalani terapi penyinaran. Sungguh tidak menyenangkan!

"Ra      ayo      kita      terapi,"

Dengan lesu aku mengangguk pelan. Hanya sekedar untuk menghibur Mamaku.

"Selesai            memakai          bajunya,           langsung          ke        ruangan           ya,"


Aku mengangguk lesu. Mama tersenyum lalu mengelus kepalaku dan berangsur pergi.

Aku tidak segera untuk memakai baju itu. Aku muak melihat baju itu! Setelah aku pandangi baju itu cukup lama, aku putuskan untuk kabur dari sini. Entah bisikan apa yang  menyuruhku    untuk   lari       dari      sini.

Mengendap-endap      keluar. Berharap          tidak    ada      yang    melihatku.

"Maura?"

Deg! Siapa yang memanggilku? Pikirku. Posisi kami saling membelakangi. Ku coba untuk menoleh ke arahnya. Oh tidak! Ternyata itu Dokter Daniel yang biasa merawatku. Segera           aku      mengambil       jurus    kaki            seribu.

Laarrrriiiiiii. Tapi Dokter Daniel juga tak tinggal diam. Dia terus mengejarku.

Aku lari tergopoh-gopoh. Sebenarnya seorang penderita skoliosis tidak diperbolehkan untuk lari. Jalan yang jaraknya lumayan jauh aja bisa bikin nafas jadi separo-paro.

Entah kemana aku harus pergi. Rasa nyeri tiba-tiba datang lagi. Tak kuat lagi ku tahan. Ditambah nafas yang terasa sesak. Akhirnya aku putuskan untuk memasuki salah satu ruangan yang ada di rumah sakit. Tak peduli ruangan apa. Sekalipun itu kamar mayat, aku harap mayat-mayat ngga tiba-tiba bangun untuk menakutiku.            Hhiiii,  kan      ngeri.

BRAKK

Setelah menutup kunci rapat. Aku cukup merasa lega. Walau tulang-tulangku terasa remuk. Terlebih tulang belakangku. Uuhh sungguh menyakitkan!

"Hei     kamu   siapa?"

Dengan nafas yang masih belum teratur aku dikagetkan lagi dengan suara. Setelah aku memalingkan muka, tampak seorang perempuan cantik sedang berdiri dihadapanku.

"A a aku Maura. Ka kamu siapa? Ka ka kamu bukan hantukan?" aku terpojok dipintu. Sementara perempuan            itu        terus    mendekatiku.

"Hei jangan takut. Aku bukan hantu. Namaku Rahma," ujarnya.

Setelah aku memandanginya untuk meyakinkan diri, akhirnya aku mulai mengenalinya. Aku diajak olehnya untuk duduk dan saling mengobrol hangat.

"Jadi    kamu   lari       gara-gara         ngga    mau     disinar?"

Aku mengangguk. "Kenapa? Sakit? Aku juga merasa sakit saat disinar," ujarnya.

"Kamu skolioser juga?" kataku tak percaya. Dia mengangguk dengan senyuman yang mengembang            dibibirnya.
"Menurutku, kamu jalani saja terapinya. Jangan sampai tidak. Karena itu salah satu cara untuk       mengobati            sakitmu,"         jelasnya.

"Tapi efek dari terapi itu cukup membuatku menderita! Kalau boleh protes, aku tidak mau menjadi skolioser! Itu membuatku menderita!" ketusku dengan suara tegas
.
"Coba deh kamu kenalan sama penyakitmu. Terkadang ngga selama penyakit itu menjadi beban, adakalanya jika kamu bisa menerimanya penyakit itu akan menjadi sahabat yang baik. Percaya deh," Rahma berusaha untuk meyakinkanku.

Aku masih tidak          yakin   dengan perkataan        Rahma.

"Maksudmu sahabat yang baik gimana? Bukannya dia malah membuat kita menderita?" timpalku.

"Terkadang seseorang perlu belajar mengambil hikmah dari suatu penderitaan. Mungkin karena kamu belum kenal jadi, kamu rasa skoliosis itu beban,"

Aku mendengar penjelasan Rahma dengan seksama. "Tapi jika kau bisa meluapkan rasa sakitmu menjadi sesuatu yang bermanfaat, aku yakin kamu pasti akan bangga menjadi skolioser,"     dia       mengangguk    penuh            keyakinan.

Sementara aku hanya terdiam. Masih tidak mengerti dengan perkataannya. Bangga menjadi          skolioser?            What?

"Maura!"

Suara itu menyebut namaku. Mungkin mereka sedang sibuk mencari diriku.

"Kamu temui mereka gih. Dan jalani saja terapinya," dia memegang tanganku. Mungkin untuk      menyalurkan            keyakinan        dirinya padaku.

"Ta ta tapi ..." belum sempat aku meneruskan perkataanku, Rahma langsung memotongnya.

"Jangan pernah berfikir kamu hidup sendiri di dunia. Tuhan yang memberi masalah, maka Tuhan pula yang akan memberi solusinya. Karena masih banyak diluar sana yang lebih       tidak    beruntung,"     ujarnya dengan            nasihat bijaknya.

Dia mengangguk yakin padaku. Akhirnya aku juga menyetujui pendapatnya. Sebelum aku pergi, aku memeluk Rahma hangat dan mengucapkan terimakasih atas supportnya.

Selebihnya aku harus menjalani terapi penyinaran demi kesembuhanku. Sampai ada donor sumsum tulang belakang untukku. Biarpun sakit, tapi aku belajar untuk mengambil hikmah seperti apa      yang    dikatakan            Rahma.


Rasa sakit itu aku luapkan lewat rangkaian kata dan menjadikannya sebuah kalimat tulisan. Ternyata benar kata Rahma, dari hobby baruku menulis, aku cukup merasa senang dan sedikit berkurang rasa sakit pada tulang belakangku. Thank you Rahma.

Kini aku mulai memahami sakitku. Tak selamanya sakit itu menjadi beban. Tuhan yang memberi masalah, maka Tuhan pula yang memberi solusinya. Skolioser tidak menutup mimpiku untuk menjadi seorang penulis. Aku bangga dengan kondisiku. I'am scolioser!

Surat Untuk Ibu,


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Semoga Allah senantiasa mencurahkan nikmat dan karunia pada kita semua. Hai malaikat tak bersayapku, pemilik rahim cinta yang tak pernah berkurang substansinya.

Allah telah menurunkanmu sebagi pelindungku, sebagai pelembut hati seperti embun-embun yang masih bergelayut pada tangkai-tangkai pohon. Karenamu, aku mengenal kasih sayang-Nya yang abadi tak pernah lekang oleh waktu.

Ibu, kaulah sang pemilik cinta sejati. Keringat-keringat lelahmu tak pernah kau keluhkan padaku. Kau selalu tersenyum di hadapanku, tak pernah inginku tahu betapa lelahnya dirimu. Ibu, andaikan kau berkenan meminjamkan hatimu padaku, aku ingin sekali merasakan apa yang engkau rasakan.

Bahkan para daun-daun merasa iri padamu, kau begitu menyayangiku. Tak peduli dengan semua kenakalanku, kau tetap memelukku erat. Daun-daun itu seolah berbisik padaku, jangan pernah lepaskan ibumu. Biarkan ibumu memelukmu hangat.

Sungguh, pelukan itu begitu dalam, hangat, menembus tubuhku.

Oh ibu, betapa air mata selalu menetes dari mataku, ketika aku mengingat semua keburukanku padamu. Tapi, kau tak pernah sekalipun memarahiku. Kau tetap ada di sampingku, bersamaku, dengan kasih sayangmu.

Oh ibu, terbuat dari apakah hatimu? Kau begitu mulia, kasih sayang yang kau limpahkan padaku, terkadang aku mengabaikannya. Menganggapnya seperti angin yang berhembus begitu saja, padahal aku tahu. Dulu, kau pasti sangat mengharap kehadiranku, menjadi pelangi dalam hidupmu.

Kau rela memberikan yang terbaik untukku, entah itu sejengkal nasi, kau tetap memberikannya pada diriku. Sampai-sampai kau tidak memperdulikan dirimu sendiri, Ibu.

Ibu, maafkan aku. Karena aku pernah merasa malu saat ibu menggandeng tanganku dan bertemu dengan teman-temanku. Tapi lihatlah, kau selalu tersenyum saat membawaku, ada kebahagiaan yang meruak dari dirimu, bahkan kau selalu menceritakan kebaikanku dan berusaha menutupi keburukanku.

Oh ibu, mengingat dirimu, wajahmu, kristal bening seakan tergelincir dari kelopak mataku. Ibu, bahkan Allah sangat menyayangimu. Banyak sekali surat dalam Al Qur’an yang mengabadikan dirimu, wahai Ibu.

“Ibu telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam waktu dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman 31:14)

Ibu, karenamu kini aku ada. Karenamu aku tahu dunia, dan karenamu aku mengenal arti kasih sayang sesungguhnya. Tak terbayangkan betapa luar biasanya pengorbananmu saat berusaha untuk mendorongku keluar, melihat semua kenikmatan-Nya.

Entah apa yang harus aku balas atas semua kasih sayangmu, aku hanya ingin berbakti padamu dan senantiasa berdo’a pada-Nya, agar kau tetap menjadi pemilik kasih sayang yang abadi untukku.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al        Isra 17:24)

Ibu, mungkin hanya surat ini yang sanggup aku persembahkan untukmu. Tiada daun-daun yang berguguran tanpa seizin-Nya, tiada kasih sayang tanpa kehadiranmu. Semoga Allah senantiasa menyayangimu, menjadikan kau bidadari di sisi-Nya, dan mempertemukan kita di surga-Nya.

Ibu, kaulah arti hidupku. Sang pemilik rahim cinta, aku sangat menyayangimu.